Egomu semalam masih melangit, memintal awan merupa wajah yang lain. Aku tak sanggup lagi mengeja maksudmu. Segalamu tak lagi sama. Serangkai kata meluap, berteriak mencari sudut kebenaran. Tentang hal yang harus kuungkapkan, antara bertahan atau melepaskan. Tak ada gelap yang menatap. Tak ada kosong yang ingin terus menetap. Sudikah kamu kusebut sebagai kisah yang tak sempat?
Kita telah melewati berbagai peran yang diberikan oleh Tuhan pada skenario terbaiknya. Pernah melewati luka, melewati rindu yang perihnya minta ampun. Entah bagaimana bisa, hanya kamu yang tetap menjadi sosok penyusun definisi bahagia untukku. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk menempuh cara apa pun agar tidak melukaimu. Sebab, aku pernah terluka begitu hebat, dulu. Bahkan, kini aku…