Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan. Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan. Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam b…
Frella: Untuk kamu, kita telah melewati banyak hal bersama. Jika pada akhirnya kita harus berpisah dan memiliki jalan yang berbeda, setidaknya kenang aku sebagai seseorang yang pernah menemani hari-harimu, baik ketika kamu bahagia ataupun putus asa. Farel: Meskipun kejujuran kadang menyakitkan, bertahan dengan sebuah kebohongan itu adalah bom waktu yang suatu saat akan meledak. Kamu perlu …
Entah pada senja ke berapa, aku mulai hidup dalam kebenaran yang enggan diucapkan. Aku memang tak mahir bersandiwara, tetapi aku tahu caranya berpura-pura. Aku terlalu pandai menipu, bahkan hampir dari sebagiian diri ini yang dilihat adalah palsu. Entah apa kamu sadar akan hal itu? Atau, kamu pun mulai ingin sedikit pura-pura tidak tahu. Mungkin kita adalah penipu yang menggenggam harapan beri…
Buku ini dicetak bermula dari rasa prihatin melihat generasi sekarang dan generasi muda Batak yang kurang perhatian pd adat dan budayanya. Dengan harapan agar pembaca dapat melihat "sisi lain" dari orang -orang Batak yg diwakili para pemeran dalam buku ini.sehingga mendapatkan "sigma baru" tentang orang Batak pd umumnya,khususnya pemuda Batak.
Roy mengayuh sepeda balapnya pelan-pelan. "Ayo, Joe!" seru Roy. Anjing herder itu menyalak kegirangan. Bulunya yang cokelat kehitaman berkilat. Gerak-geriknya melindungi majikannya dari bahaya. Roy memang selalu jadi pusat perhatian. Ke sekolah dengan sepeda balap dan anjing herder? Itu absurd. Sebuah objek sensasi. Lain waktu telinganya mendengar suara-suara centil, manja, genit, dan menggemas…